BAGAIMANA MASA DEPAN ISLAM DIMASA MENDATANG?

Senin, 26 Maret 2012

Pentingnya Peran Ulama Dalam Pembangunan

Peran ulama dalam menjaga keseimbangan pembangunan baik fisik maupun moral yang sangat pesat belakangan ini mutlak diperlukan, jika peran ulama diabaikan, maka pembangunan, utamanya pembangunan mental masyarakat, akan memiliki arah yang tidak jelas dan masyarakat akan mengikuti hawa nafsunya.

Demikian dikatakan ustadz Amlir Syaifa Yasin, Sekretaris Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia saat menyampaikan tausiah dalam acara Silaturrahim Dewan Syariah Wilayah Partai keadilan Sejahtera DKI Jakarta dengan Ulama dan Tokoh Masyarakat di Hotel Grand Cempaka Jakarta Pusat, Ahad (25/12).

Dalam acara yang mengambil tema ”Mengokohkan peran ulama dan tokoh masyarakat dalam membangun Jakarta”, Amlir juga mengatakan bahwa ulama sebagai pewaris risalah yang dibawa Rasulullah SAW memiliki peran yang sangat vital dan strategis dalam membentuk karakter dan moral masyarakat, jika ulama baik, insya Allah baik pula masyarakatnya, begitu juga sebaliknya.

”Sebagai sosok yang menjadi panutan masyarakat, ulama harus memiliki sikap yang istiqomah, tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu kepentingan dunia, dan jika ia memberikan nasihat atau pandangan semata-mata untuk kemaslahatan ummat agar Syariat Allah dapat ditegakkan dan Ridho Allah dapat diraih serta harus berperan aktif dalam menyeimbangkan pembangunan fisik dan moral, karena jika peran ulama diabaikan, maka masyarakat akan kehilangan kontrol dan cendrung berbuat yang negatif sebagai akibat pesatnya pembangunan”, ujar ustadz kelahiran Palembang ini.

Amlir juga menambahkan bahwa ulama sebagai pemberi fatwa, pencerah ummat, mempunyai otoritas dibidang keagamaan dan dapat memberikan nasihat dan saran kepada umara agar kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh para umara itu dapat terarah, tidak bertentangan dengan agama dan dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih optimal bagi rakyat. Ulama memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam islam, karena tanpa ulama, orang akan menjadi nihil dan akan bertindak menurut hawa nafsunya.
 sumber klik disini

Peran Ulama Dalam Pemerintahan

“Jika ulama melihat kemungkaran pemerintah, kritikan bukan saja boleh dilakukan tetapi sudah suatu keharusan.”
Indonesia sebagai negara besar serta plural, di dalamnya terdapat umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas. Melihat realitas ini, sehingga umat Islam diposisikan sebagai kalangan ‘penentu’ atas maju ataupun mundurnya bangsa ini. Karena fenomena inilah moral, mental, dan sikap positif kaum muslim Indonesia begitu spesial. Apabila negeri ini carut-marut, buram, maka pihak mayoritas lah yang pantas di salahkan, umat Islam. Pula jika bangsa ini terwujud kemajuan atau kesuksesan di segala bidang, tentunya tidak mustahil akan menjadi citra positif bagi umat Islam sendiri, baik oleh internal penduduk bangsa Indonesia ataupun negara-negara yang lain.
Akan tetapi, mencoba merasakan spesial asa pihak mayoritas di negeri ini dengan meliat realitas membuat hati ini miris. Sangat ironis bangsa yang banyak dihuni umat Muhammad ini di dalamnya acapkali ditemui pelbagai masalah yang memalukan sekaligus menyakitkan. Terlebih lagi problem yang ada saat-saat ini lebih banyak dilakukan oleh kalangan elit negeri yang beragama Islam, dengan kasus yang dilakukannya pun beragam; tindakan korupsi yang menjamur, penguasa acapkali berdusta, moralitas anggota dewan sangat memprihatinkan, serta kasus-kasus jahat lainnya. Pemerintah yang demikian ditinjau dari hadits Rasulullah Saw layak disebut munafik sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, bahwasanya ciri penguasa munafik ada tiga, yang pertama perkataannya seringkali berdusta, kedua janji-janjinya banyak yang tidak dipenuhinya, dan ketiga acapkali mengkhianati. Kenyataan pemerintah yang demikian, sehingga pantas saja masyarakatnya rusak. Kebodohan dan kemiskinan merajalela di tanah yang dikenal subur ini. Keadaan ini persis seperti yang dikatakan oleh Imam Ghozali dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin, juz 2, hal. 191, “Rusaknya masyarakat dikarenakan rusaknya penguasa.”
klik  Disini

otoritas ulama

OTORITAS ULAMA DALAM PRESPEKTIF ISLAM
Dr.Ahmad Zain An Najah, MA
Majalah Hidayatullah, Desember 2007. Akhir-akhir ini banyak umat Islam yang sudah berani melecehkan para ulama dan tidak menghormati mereka lagi, ini adalah salah satu tanda akhir zaman…padahal dalam Islam, para ulama mendapatkan kedudukan yang sangat terhormat sekali. Diantaranya adalah apa yang disebutkan Allah swt dalam salah satu firman-Nya :
” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )
Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rosul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya. Adapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam. Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan umara ( pemimpin ). Ini sesuai dengan apa yang kita dapati dalam perjalanan sejarah Islam pertama, bahwa Rosulullah saw adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafa’ rasyidin sesudahnya : Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas. Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara. Dalam posisi seperti ini, manakah yang harus kita taati terlebih dahulu, ulama atau umara ? klik disini

Minggu, 25 Maret 2012

Bimbingan Dan Konseling Di sekolah

Hakikat Dan Urgensi Bimbingan Dan Konseling

islam kontemporer

Tentang Terorisme, Dakwah dan Pendampingan Cetak E-mail
Ditulis oleh M. Arif Hidayat, Lc   
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
الرَّاحمُونَ يَرحمُهُم الرّحمنُ ارْحَموا مَنْ في الأرض يرحمْكُم من في السَّماءِ
Orang-orang yang yang penuh kasih-sayang akan dikasih-sayangi oleh Allah. Hendaklah kalian semua menyayangi semua yang ada di bumi, agar kalian disayangi oleh para penghuni langit.
Yang dimaksud dengan penghuni langit dalam hadis tsb adalah Allah SWT dan para malaikat-Nya. Beberapa pelajaran dari hadis ini adalah:
  1. Kita harus mempunyai sifat yang penuh kasih-sayang pada sesama makhluk Allah di bumi, agar kita dikasihi dan disayangi oleh Allah dan malaikat-malaikat-Nya. Jadi rasa kasih-sayang pada sesama makhluk merupakan syarat agar kita dikasihi dan disayangi oleh Allah dan para malaikat-Nya. Ketika mengasihi dan meridhoi kita di bumi, Allah akan memerintahkan para malaikatnya untuk mendoakan dan memintakan rahmat dan ampunan pada kita, sehingga kehidupan kita menjadi nyaman, tentram, dan sejahtera.
  2. Disebutkan dalam hadist tsb ارحموا من في الأرض (sayangilah siapa saja yang ada di bumi). Siapa saja di sini tidak terbatas pada manusia saja, tapi juga semua makhluk, baik makhluk hidup dan mati. Semuanya harus kita sayangi. Bagaimana kita menyayangi mereka? Tentu dengan menghargai segala hak keberadaan mereka dan membantu apa saja yang dibutuhkan untuk kelestariannya selama itu adalah berupa kebaikan. Dengan demikian, tradisi-tradisi dan kebudayaan masyarakat dan benda-benda yang bernilai historis dan positif harus kita lestarikan. Termasuk tanah tempat kita berpijak harus kita sayangi, dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengotori dan merusaknya, tapi justru dengan menghijaukannya. Udara pun demikian.
    Adapun dalam kelompok manusia, tidak perlu diragukan lagi bahwa semua orang tanpa kecuali harus kita sayangi. Tanpa membedakan antara orang yang baik dan yang buruk. Justru, sesuai prinsip tasowwuf Islam, semakin jelek prilaku seseorang maka semakin besar dia membutuhkan kasih-sayang dan perhatian kita. Pemberian kasih-sayang dan perhatian ini tentu tidak dalam rangka melindungi dan melestarikan perilaku jelek tersebut, tapi untuk sedikit-demi sedikit mengikis dan memotivasinya agar berubah menjadi baik.
Prinsip ini memang berat sekali rasanya. Sebab secara naluri, lumrahnya orang hanya menyukai orang lain yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Kalangan santri menyukai sesama santri dan sulit membaur dengan kalangan abangan apalagi dengan kelompok yang sering dianggap nakal dan sebagai sampah masyarakat. Demikian pula sebaliknya, orang-orang yang merasa dirinya menjadi sampah masyarakat akan semakin dalam terjatuh dalam ketersesatan karena mereka hanya mau bergaul dengan teman-temannya yang berhobi sama. Ini sama halnya dengan kalangan yang akhir-akhir ini ramai diberitakan media massa yakni mereka yang disebut sebagai teroris. Kalangan teroris hanya berkelompok dengan sesama teroris, dan sebaliknya yang belum menjadi teroris membenci mereka.
Sidang pembaca yth, hendaknya kita dalam melihat segala sesuatu seobyektif mungkin. Jika kita mengetahui seseorang itu berperilaku tidak baik, yang harus kita benci bukan orangnya, tapi perilakunya. Jika kita mampu bersikap demikian, maka kita harus membaur dan membantu mereka sampai mereka bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Ingat, kita hanya membenci keburukannya, makanya kita harus berusaha menghilangkan keburukan itu sementara orangnya tetap kita hormati, kita hargai, dan kita sayangi. Teroris pun demikian, tidak boleh kita serta-merta membenci orangnya. Hanya perilakunya yang harus kita benci. Dengan begitu, jika kita menjumpai seorang teman yang terperosok ke terorisme, kita harus mendekati mereka dengan penuh kesabaran, menunjukkan pada mereka jalan yang benar. Minimal, jika kita tidak mampu melakukan pendekatan dan bimbingan pada mereka, kita harus ikut mendoakan agar mereka bisa kembali ke jalan yang benar.

Pemaknaan yang salah

Kaitannya dengan hal ini ada sebuah hadis yang penting kita ketahui :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان رواه مسلم
Rasulullah saw. Bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaknya dia menghentikannya dengan tangannya. Dan jika tidak mampu (dengan tangan) maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu (dengan lisan), maka dengan hatinya dan ini (dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman.”
Banyak orang yang salah menafsirkan hadis ini. Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “فليغيره بيده” (hendaknya menghentikan kemungkaran itu dengan tangan) adalah menghentikan kemungkaran dengan kekuatan fisik bahkan kalau perlu dengan kekerasan. Penafsiran seperti itu adalah salah total. Memang benar tangan adalah simbol dari kekuatan, tapi tidak lantas berarti kekuatan fisik belaka, apalagi jika dikonotasikan dengan kekerasan (ini sungguh pemaknaan yang sempit). Kekuatan di sini harus lebih diartikan sebagai kekuatan jiwa yang meliputi kesabaran, pengetahuan, dan aksi tanpa kekerasan. Sebab jika dihitung-hitung, kekuatan fisik yang disertai kemarahan dan kekerasan pasti tidak akan menuai kemenangan, tapi justru kekalahan. Namun kekuatan yang berupa kesabaran, pengetahuan, dan aksi tanpa kekerasan tidak akan lain pasti meraih kemenangan.
Prinsip-prinsip
Lalu bagaimana agar kita mampu bersikap positif pada orang-orang yang kita anggap salah dan sesat, agar kita mampu mengajak mereka kembali pada jalan yang benar? Berikut ini adalah prinsip-prinsip dalam berdakwah.
  1. Positif thinking/optimis atau husnudzdzon
    Sejelek-jeleknya orang pasti akan bisa berubah. Kita perlu ingat, jika permukaan batu saja bisa berubah karena tertetesi air tiap hari dan tiap waktu, mengapa manusia tidak? Kita harus yakin bahwa manusia lebih berpotensi untuk mengalami perubahan menjadi baik.
  2. Curahkan kesabaran
    Kesabaran dalam keadaan apapun harus didahulukan. Kesabaran bukan berarti menyerah dan kalah, tapi lebih berarti ketangguhan. Jika kita mampu bersabar itu berarti kita tangguh, tidak mudah terkalahkan. Itulah makanya Allah SWT berfirman:
    استعينوا بالصبر والصلاة. البقرة : 45
    Minta tolonglah kalian [dalam menyelesaikan segala problem kehidupan] dengan berlaku sabar dan solat.
    Mengapa dalam ayat ini justru sabar yang didahulukan, bukan solat? Ini tentu ada hikmahnya. Yakni bahwa agar solat kita menjadi berkualitas kita harus melakukannya dengan penuh kesabaran. Tidak boleh ada ketergesa-gesaan. Dalam sebuah hadis:
    إذا سمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة وعليكم بالخشوع والوقار، فما أدركتم فصلوا وما فاتكم فأتموا
    Jika kamu mendengar iqomah, maka berjalanlah menuju solat, dan kalian harus tetap dalam keadaan khusyuk dan tenang. Ikutilah reka’at yang kalian dapati, dan sempurnakanlah reka’at-reka’at yang kamu tertinggal. Demikian juga dalam segala bidang kehidupan, kesabaran sangat menentukan kualitas perjalanan hidup kita.
  3. Tahan amarah
    Sebenarnya, apapun alasannya kemarahan tidak bisa dibenarkan. Itulah makanya Nabi bersabda:
    الغضب من الشيطان (Kemarahan berasal dari setan). Nmun demikian, karena kemarahan adalah sesuatu yang manusiawi, lumrah, agama tidak serta-merta mencelanya. Namun demikian tidak lantas membenarkannya. Oleh karenanya Nabi bersabda:
    ليس الشديد بالصرعة ولكن الشديد من يملك نفسه عند الغضب
    Tidaklah orang yang hebat itu yang ahli gulat, tapi orang yang hebat adalah yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah.
    Jadi, boleh dan wajar saja kita marah pada teroris, pada para penjahat, orang-orang yang dianggap hanya berbuat rusuh. Tapi kita jangan lupa, bahwa kita jugalah yang harus membantu mereka, membimbing mereka, minimal mendoakan mereka, agar mereka bisa menjadi orang yang baik.
  4. Tanamkan kesadaran bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, memiliki kejelekan dan kebaikan. Tidak ada yang sempurna. Sebaik-baiknya manusia pasti mempunyai keburukan juga, dan seburuk-buruk manusia pasti memiliki kebaikan juga.
  5. Tulus
    Ketulusan berdampak pada keseriusan dan istiqomah. Sehingga kita akan menyukai pekerjaan dan aktifitas yang kita lakukan.
  6. Demokratis Prinsip demokratis ini harus benar-benar kita pegang. Sebab agama kita juga mengajarkan demikian: tidak ada paksaan dalam agama.
    لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي. البقرة : 256
    Sesuatu yang benar berdasar petunjuk itu jelas berbeda dari kesesatan.
    Oleh karena itulah kita tidak perlu emosi dan marah-marah dalam menyikapi suatu tindakan buruk dan sesat. Yang kita perlukan hanyalah ketegasan. Itulah makanya perlu adanya musyawarah atau rembukan dalam rangka mencapai suatu kesepakatan. Hal ini juga berlaku bagi orang tua, guru, dan para pendamping yang menginginkan anak-anaknya atau orang yang didampingi menjadi baik. Harus ada musyawarah, sehingga aturan-aturan dan sanksi-sanksi benar-benar berdasar mufakat antara orang tua dan anak, antara guru dan murid, antara pendamping dan yang didampingi. Jangan bersikap mentang-mentang orang tua, maka bisa bersikap seenaknya. Dengan begitu, jika orang tua melakukan kesalahan maka harus minta maaf pada anaknya dan berjanji tidak mengulangi lagi. Guru dan pendamping juga demikian. Sehingga anak akan tahu bahwa kesalahan itu sesuatu yang manusiawi. Bisa terjadi pada anak-anak dan orang tua. Yang terpenting adalah sikap maaf-memaafkan dan komitmen untuk terus memperbaiki diri. Sebab orang yang baik itu bukan orang yang bersih dari kesalahan, tapi orang yang berkomitmen untuk tidak mengulang kesalahan serupa dan berjanji untuk terus memperbaiki diri.
    Sikap demokratis ini selaras dengan ajaran Islam yang lain bahwa semua kebaikan itu datangya dari Allah, sedangkan kejelekan karena ulah manusia sendiri. Kewajiban kita sebagai orang yang dikaruniai kesadaran yang normal dan baik adalah hanya berdakwah atau mengajak.
    Adapun jika orang yang kita ajak tidak mau mengikuti ajakan kita maka ada 2 kemungkinan: (1) Orang yang kita ajak punya prinsip mengenai kebaikan/kebenaran yang berbeda. Jika ini yg terjadi, maka kita harus bersuka hati karena dia telah menjadi orang yang baik, hanya saja berbeda madzhab atau berbeda jalannya. (2) Orang yang kita ajak belum siap atau benar-benar tidak mau mengikuti jalan kebaikan yang kita dakwahkan. Jika ini yang terjadi, kita pun tidak boleh serta-merta kecewa. Justru kita harus menelaah kembali, jangan-jangan pendekatan dan metode yang kita gunakan dalam berdakwah tidak sesuai atau justru mengecewakan orang yang kita ajak. Maka kita harus terus belajar untuk mencari cara dan metode agar dakwah kita bisa efektif, dan semuanya kita lakukan dengan penuh optimisme, kesabaran, tulus dan demokratis.
Sidang pembaca yth, dengan berbekal prinsip-prinsip tersebut insyaallah proses dakwah, pendampingan, atau pembelajaran akan berjalan efektif. Jangan sampai kita menempuh jalan kekerasan. Sebab apapun alasannya kekerasan tidak bisa dibenarkan. Kita hanya diperintahkan mengajak pada kebaikan dan kebenaran tanpa merasa baik dan benar sendiri. Sebab jika ada kebenaran dan kebaikan dalam diri kita itu tiada lain karena pertolongan Allah SWT. Berbekal pertolongan Allah itulah kita harus menolong sesama makhluk yang membutuhkan pertolongan. Dan pertolongan yang paling ampuh adalah pendampingan. Pendampingan di sini lebih berarti menemani dalam proses belajar  (menuju perubahan ke arah yang lebih baik) dengan penuh kebersamaan, egaliter, demokratis, dan kemandirian. Inilah kekuatan yang sesungguhnya.

Bersumber dari : http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1280:tentang-terorisme-dakwah-dan-pendampingan&catid=2:islam-kontemporer&Itemid=57

Atau Klik di sini

‘ILMU AGAMA ALLAH SELAMANYA AKAN TETAP TINGGI

‘ILMU AGAMA ALLAH SELAMANYA AKAN TETAP TINGGI

Sesungguhnya orang-orang yang shiddiq (benar) dalam niatnya, ikhlash dalam ilmunya, memelihara amalannya, mereka akan selalu terbimbing untuk menjalankan kebenaran dan dijauhkan dari seluruh kejelekan dan kejahatan dalam beramal.
. Adapun orang-orang yang dihiasi dengan pakaian yang berlawanan dengan keadaan tersebut, maka akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya pembicaraan tentang ilmu agama Allah ‘Azza wa Jalla adalah pembahasan yang sangat besar dan luas. Tetapi, wajib bagi kita memperhatikan perkara amal setelah kita berilmu. Sebagaimana diriwayatkan dari para salafuna sholih radliyallaahu’anhum. “Ilmu adalah pohon, buahnya adalah amal”. Pohon tanpa buah apakah berfaedah dan memberikan kebaikan ?! ataukah hanya berfungsi sebagai hiasan saja. Luarnya menampakkan keindahan dan rahmat, akan tetapi batinnya berada dalam ancaman adzab Allah ‘Azza wa Jalla.

Demikianlah wahai kaum muslimin.., Kita melihat mereka yang menyelisihi jalan yang ditempuh para ‘ulama. Jauh dari bimbingan kitabnya Dzat yang di atas samaa’ (langit). Jauh dari sunnahnya pemimpin Al Anbiya’ (yaitu Rasulullah’alaihishalaatu wasallam).
Mereka dalam keadaan tidak bertambah sedikitpun ilmunya, amalnya, ketaatannya, iltizamnya (berpegang teguh kepada ilmu agama), demikian juga dakwahnya. Pada akhirnya kebenaran tenggelam akibat penyimpangan yang mereka lakukan. Tetapi, ilmu agama Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa berkibar benderanya, tinggi kedudukannya, dan tegar bangunannya yang selalu dibawa para ahlul haq (‘ulama yang berpegang teguh di atas kebenaran Al Quran dan As- Sunnah).
Tidak menutup kemungkinan bahwa kebenaran pada saat ini didasari pada banyaknya pengikut !!! Atau dengan banyaknya pengikut itu menunjukkan bahwa mereka di atas kebenaran ! Padahal sesungguhnya dalil seseorang berada di atas al haq adalah hujjahnya.
Keterangan seseorang di atas al haq adalah dalil-dalilnya. Cahaya seseorang di atas al haq adalah kejelasannya.

Dari sinilah, meskipun jumlah ahlul haq sedikit, tetapi mereka adalah golongan yang paling kuat hubungannya dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena mereka senantiasa mencari dan meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla ! Menyerahkan seluruh perbuatannya hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ilmu, amal, ucapan, dan keyakinan mereka sandarkan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Adapun selain ahlul haq, sedikitpun mereka tidak bersandar di atas hukum Al-kitab dan As- sunnah. Tetapi bersandar pada hawa nafsu, perasaan, semangat tinggi individualisme, pemikiran guru/ ustadz/syaikhnya. Apabila telah datang bimbingan dari para ‘ulama ahlussunnah, sedikitpun mereka tidak menoleh dan tidak pula mengangkat kepalanya untuk menjalankannya.

Ilmu robbani adalah ilmu yang menghantarkan seorang hamba kepada robbnya. Ilmu robbani adalah ilmu yang hanya bertujuan meraih keridhoan Allah Tabaroka wa Ta’aala. Dengan demikian, jadikanlah keridhoan, amalan, dan perbuatanmu hanya untuk mencari keridhoan Allah karena sesungguhnya keridhoan manusia tidak kekal selamanya dan akan berubah, sedang ridho Alloh akan kekal selamanya.
Apabila dikatakan oleh seseorang, “Ini adalah perkara yang baik !” Ada orang lain yang berkata, “Ini perkara baik dipandang dari segi demikian.” Berkata orang ketiga, “Ini adalah perkara yang jelek.” Berkata orang keempat, “Ini adalah demikian dan demikian.” Setiap orang akan berkata dan berkomentar dengan akalnya !!! Setiap orang akan berkata dan berkomentar dengan hawa nafsunya !!! Apabila kita berselisih dalam suatu perkara ! Kemana akan kita kembalikan ?! Apakah kita kembalikan kepada dasar pemikiran dan akal ?! Tidak demi Allah !!! Kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:
“Apabila kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya (Al-Quran dan As-sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya (balasannya)”. (Q.S. An Nisaa’ : 59)

Mustahil kita bisa mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, apabila kita berselisih padahal kita sebagai orang-orang yang mubtadiin (baru belajar agama) ! Dengan kuatnya kita berpegang teguh dan mengembalikan kepada dasar pemikiran akal-akal kita ! Dengan kuatnya kita ta’ashub (fanatik tanpa dalil) kepada ucapan-ucapan kita dalam keadaan kita tidak tahu hukumnya secara syar’i ! Dalam keadaan kita tidak bisa memahami suatu hukum syar’i yang disebabkan cekak dan dangkalnya akal kita.

Maka, bimbingan para ‘ulama adalah sebagai perkara asas di dalam kita mengembalikan perselisihan di atas kebenaran Al-Quran dan As-Sunnah karena ‘ulama ahlussunnah adalah golongan yang paling ‘alim dengan sunnah Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam. Para imam ahlul haq adalah golongan yang paling ‘alim dengan al haq. Ini bukan perkara dusta dan dakwaan belaka, tetapi merekalah orang-orang yang telah dipersaksikan keadilan, ilmu, kesabaran, keistiqomahan dakwah, dan iltizamnya kepada ilmu agama Allah dengan rentang waktu yang sangat panjang. Mereka adalah para da’i kebenaran.
Apabila kita memperhatikan, pada saat ini, orang-orang yang demikian jumlahnya sangat sedikit. Ketika nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
عليكم بالجماعة
“Tetaplah kalian di atas Al Jama’ah”.
Maka berkata Abdulllah bin Mas’ud radliyallahu’anhu : “Al Jama’ah adalah seseorang yang berada di atas kebenaran meskipun sendirian.”

Seseorang yang berada di atas al haq (sebagai pengikut rasul dan para shohabatnya), maka dia itu adalah Al Jama’ah, meskipun ia sendiri.
Maka, janganlah kalian terkecoh dengan ketenaran nama-nama !!!!! Gemerlapnya harta dunia ! Jadilah kalian orang-orang yang selalu dihiasi dan berdiri di atas ilmu, berdakwah kepada dan dengannya. Dan itu semua harus di atas dasar ikhlash dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Apabila telah jelas atas kita, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, seluruh asas dan kaidah tersebut di atas, maka kita pasti mengetahui hakikat ilmu agama Allah dan hakikat ‘ulama. Demikian juga kita pasti mengetahui orang-orang yang menyelisihi ilmu agama Allah dan para ‘ulama.

Dengan ilmu agama Allah kita akan mengetahui bisikan syaithon yang selalu menjerumuskan kepada jalan kesesatan. Dengan ilmu agama Allah kita akan menjadi orang-orang yang siap membunuh syubhat dan syahwat. Akan tetapi, apabila tidak jelas asas dan kaidah tersebut atau kita menjadi golongan yang buta dan tuli, maka kita akan menjadi orang-orang yang sesat, merugi dan celaka !

Wajib bagi kita untuk selalu berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar senantiasa istiqomah di atas al haq. Dan ini yang diajarkan oleh Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam. Beliau adalah seorang rasul. Beliau meminta dan berdo’a kepada Allah agar senantiasa berada di atas jalan yang lurus ! Beliau adalah sebagai qudwah hasanah yang sempurna !

Maka seyogyanya bagi kita lebih muhasabah diri dalam mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jangan sekali-kali kita menyimpang dari contoh yang telah beliau shallallahu’alaihi wasallam ajarkan disebabkan oleh perasaan, semangat tinggi individualisme, syubhat, dan syahwat. Wajib bagi kita bersungguh-sungguh dengan sekuat kemampuan untuk mengembalikan seluruh amalan di atas dasar ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam).

Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya :
“Dan orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) Kami, benar benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik,”. (Q.S. Al ‘Ankabut : 69)

Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam:
المجاهد من جاهد هواه في ذات الله

“Seorang mujahid adalah mereka yang berjihad untuk memerangi hawa nafsunya
dalam rangka menuju Dzat-nya Allah”.
Sumber Dari :klik sini