JAKARTA - Ketua DPR Marzuki Alie meminta, elit politik untuk tidak membodohi rakyat dengan mengatakan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak perlu naik.
Menurut politikus Partai Demokrat itu, kalangan yang teriak samacam itu tidak pernah melihat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak pernah utuh.
"Yang bilang selalu naikan minyak gak berpikir tentang rakyat. Jangan lah kita membodohi rakyat. Kasian rakyat kita sudah susah, dibodohi lagi," ujar Marzuki kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3/2012).
Seharusnya kata Marzuki, jika ingin melihat APBN harus dilihat dari sisi pengeluaran dan penerimaan.
Seperti yang dikatakan Kwik Kian Gie, bahwa penerimaan terbagi menjadi migas dan nonmigas. Penerimaan dari migas diketahui masih surplus, di mana pendapatan migas dikurangi nonmigas.
“Inilah yang ditotalkan menjadi belanja negara. Belanja negara ada belanja kesehatan, pendidikan, program prorakyat,” jelasnya.
Adapun pengelompokan pendapatan negara tersebut, dikatakannya, otomatis membuat pendapatan negara menjadi turun. Maka, akan terjadi kebingungan apakah nantinya yang akan dikurangi belanja pegawai, belanja kesehatan atau subsidi pupuk.
“Kalau kelompok yang dikurangi tadi tidak dikoreksi. Kalau minyak naik terus, maka ada dari kelompok tersebut yang dikurangi terus, makanya kelompok migas ini disesuaikan," kata dia.
Oleh karena itu, kata dia, tak mungkin subsidi belanja lembaga kementerian dikurangi. Sebab jika dikurangi, maka belanja infrastruktur untuk rakyat akan habis.
"Itu saja intinya kenapa dibohongi rakyat. Kalau dikurangi subsidi belanja tidak dikurangi ya habis. Belanja infrastruktur untuk rakyat, apa ini yang kita kurangi jadi menjelaskan sederhana," kata dia.
Apalagi kata dia, masyarakat tak paham soal APBN. "Masyarakat kita enggak ngerti APBN. Masyarakat kita ngerti ini penerimaan, ini pengeluaran," jelasnya.
Bagaimanapun kenaikan BBM tak bisa dihindari. Bahkan kata jika pun gaji pegawai dipotong tak akan mencukupi subsidi tersebut.
"Kalau gaji pejabat negara dipotong, taruh saja Rp2 triliun-Rp3 triliun, apa cukup menutupi yang Rp64 triliun itu," kata dia.
Jumat, 30 Maret 2012
SDM lemah SDA Indonesia Di kuasai Pihak Asing
Toko Muhammadyah pusat, Prof Dr Syamsul Anwar mengatakan sumber daya alam atau SDA Indonesia lebih banyak dikuasai pihak asing karena kualitas sumber daya manusia (SDM) di republik ini masih rendah. Akibatnya rakyat Indonesia jauh lebih miskin dibandingkan negara-negara lain yang tergabung dalam ASEAN.
“Kenyataan ini amat memprihatinkan. Apa kurangnya SDA yang kita miliki, bahkan terlengkap di dunia. Tapi SDM kita masih sangat rendah, tidak mampu mengelola SDA yang cukup kaya ini, sehingga lebih banyak dikuasai oleh pihak asing,” kata Syamsul Anwar yang juga ekonom, dalam tausyiah milad ke-99 Muhammadyah di Dayah Ihya Hussunnah di Kampung Jawa Baru, Lhokseumawe, Rabu (18/2).
Menurut Anwar, Indonesia kaya minyak, gas, bauksit, batu bara, emas, perak, dan ribuan bahan tambang lainnya. Selain itu, nusantara ini juga memiliki potensi kelautan, pertanian, dan hutan yang amat menggiurkan. Ironisnya, kata dia, di tengah tumpukan SDA tersebut ternyata warga setempat hanya mampu menjadi buruh di tanahnya sendiri bahkan sebagian di antaranya sebagai penonton. “Kita harus merubah kenyataan ini, jadikan SDM sebagai konsesus bersama untuk prioritas pembangunan,” tuturnya.
Di bidang akademik, lanjut Anwar, Indonesia yang dihuni sekitar 250 juta jiwa hanya memiliki prestasi gelar PhD sekitar 7.000 orang. Bila dibandingkan dengan Filipina yang jumlah populasi penduduknya sekitar 18 juta jiwa, kata dia, Indonesia tertinggal jauh. Buktinya, warga Filipina yang bergelar PhD mencapai Rp14.000 orang. Belum lagi Singapore, dan Malaysia. Vietnam yang baru saja lepas dari penjajah 1975 lalu, katanya, kini memiliki SDM jauh lebih baik dari Indonesia.
Muhammadyah, menurut Anwar, memiliki andil yang tidak kecil untuk mencerdaskan generasi bangsa. Saat ini Muhammadyah memiliki sebanyak 162 perguruan tinggi (PT) yang tersebar di seluruh pelosok, ribuan pendidikan tingkat SLTA, SLTP dan dayah. Secara kuantitatif andil ikut mencerdaskan anak bangsa telah dilakukan, tapi secara ekonomi belum mampu.
“Kenyataan ini amat memprihatinkan. Apa kurangnya SDA yang kita miliki, bahkan terlengkap di dunia. Tapi SDM kita masih sangat rendah, tidak mampu mengelola SDA yang cukup kaya ini, sehingga lebih banyak dikuasai oleh pihak asing,” kata Syamsul Anwar yang juga ekonom, dalam tausyiah milad ke-99 Muhammadyah di Dayah Ihya Hussunnah di Kampung Jawa Baru, Lhokseumawe, Rabu (18/2).
Menurut Anwar, Indonesia kaya minyak, gas, bauksit, batu bara, emas, perak, dan ribuan bahan tambang lainnya. Selain itu, nusantara ini juga memiliki potensi kelautan, pertanian, dan hutan yang amat menggiurkan. Ironisnya, kata dia, di tengah tumpukan SDA tersebut ternyata warga setempat hanya mampu menjadi buruh di tanahnya sendiri bahkan sebagian di antaranya sebagai penonton. “Kita harus merubah kenyataan ini, jadikan SDM sebagai konsesus bersama untuk prioritas pembangunan,” tuturnya.
Di bidang akademik, lanjut Anwar, Indonesia yang dihuni sekitar 250 juta jiwa hanya memiliki prestasi gelar PhD sekitar 7.000 orang. Bila dibandingkan dengan Filipina yang jumlah populasi penduduknya sekitar 18 juta jiwa, kata dia, Indonesia tertinggal jauh. Buktinya, warga Filipina yang bergelar PhD mencapai Rp14.000 orang. Belum lagi Singapore, dan Malaysia. Vietnam yang baru saja lepas dari penjajah 1975 lalu, katanya, kini memiliki SDM jauh lebih baik dari Indonesia.
Muhammadyah, menurut Anwar, memiliki andil yang tidak kecil untuk mencerdaskan generasi bangsa. Saat ini Muhammadyah memiliki sebanyak 162 perguruan tinggi (PT) yang tersebar di seluruh pelosok, ribuan pendidikan tingkat SLTA, SLTP dan dayah. Secara kuantitatif andil ikut mencerdaskan anak bangsa telah dilakukan, tapi secara ekonomi belum mampu.
Rabu, 28 Maret 2012
Disertasi Aqil Siradj Telah Menyebut Syiah Sesat
Dr Said Aqil Siradj Dulu dan Kini
PERJALANAN hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (istiqamah). Karena itu, dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dan ini mungkin salah satu hikmah yang dapat anda petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menunjuki anda jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran
Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj di berbagai media. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.
Untuk menguatkan klaimnya ini, Said Aqil merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya: "Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat."
sumber klik disini
PERJALANAN hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (istiqamah). Karena itu, dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dan ini mungkin salah satu hikmah yang dapat anda petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menunjuki anda jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran
Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj di berbagai media. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.
Untuk menguatkan klaimnya ini, Said Aqil merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya: "Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat."
sumber klik disini
Pluralisme KH Said Agil ''Jangan Ragu dengan PBNU''
Jakarta-wahidinstitute.org. Kepada sejumlah tokoh agama dan aktivis hak asasi manusia yang menemuinya, Kamis sore (17/03), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj menyatakan untuk tidak ragu dengan sikap PBNU terkait isu kekerasan dan kelompok minoritas. "Ini kita akan bawa ke pleno. Bukan hanya mengulang-ngulang yang sudah, tapi apa action ke depan. Jangan Ragu," tegasnya di ruang kerjanya di lantai tiga gedung PBNU Jalan Matraman Jakarta Pusat. KH. Said Aqil berjanji, informasi yang disampaikan dalam pertemuan itu akan dibawa sebagai materi dalam rapat pleno PBNU dan dari sana akan diputuskan langkah-langkah konkret PBNU selanjutnya.
Terkait kasus kekerasan dan isu pembubaran Ahmadiyah, KH. Said sendiri bercerita kalau dirinya pernah diundang Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk dimintai pandangannya sebagai ketua PBNU. Sebelum itu, ia juga diundang Sekretris Kabinet Dipo Alam untuk masalah yang sama. Dalam kesempatan itu Doktor Universitas Ummul Qura Mekkah ini menyampaikan, orang-orang seperti KH. Wahid Hasyim mantan Menteri Agama RI yang juga ayahanda KH. Abdurahhaman Wahid dan KH. Achmad Siddiq, mantan Rais Am PBNU, meski berbeda pandangan tetap saja sangat menghormati Ahmadiyah. Presiden, kata Said Aqil, sangat serius dengan soal ini. "Untuk membubarkan Ahmadiyah, SBY tidak ke situ arahnya," terangnya.
Ia juga menyampaikan gagasan tentang perlunya keterbukaan dalam pengelolaan masjid-masjid Ahmadiyah untuk mengurangi eskalasi kekerasan. Masjid Ahmadiyah juga harus terbuka untuk non-Ahmadiyah. "Seperti juga Muhammadiyah yang jumatan di Masjid NU, meski hanya ada perbedaan sedikit," contoh KH. Said Aqil.
Dalam soal kekerasan, tambah Said Aqil, PBNU juga memiliki sikap jelas. Ia lalu mencontohkan sikap PBNU terkait kasus bom yang ditujukan Ulil Abshar Abdalla, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang juga menjadi calon Ketua Umum PBNU. Tak lama setelah bom meledak, PBNU mengeluarkan sikap. Intinya, menyerukan perlawanan terhadap setiap aksi teror, termasuk himbauan agar kader NU tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan serta memperbanyak munajat dan mohon perlindungan kepada Allah SWT. PBNU juga menghimbau kepada Keluarga Besar NU beserta para kiai dan ulama NU senantiasa mendoakan keselamatan saudara Ulil Abshar-Abdalla dan kader-kader NU yang lain. KH. Said Aqil juga menambahkan, sikap yang tegas soal kekerasan juga ia sampaikan di depan tokoh-tokoh MUI.
sumber DISINI
Terkait kasus kekerasan dan isu pembubaran Ahmadiyah, KH. Said sendiri bercerita kalau dirinya pernah diundang Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk dimintai pandangannya sebagai ketua PBNU. Sebelum itu, ia juga diundang Sekretris Kabinet Dipo Alam untuk masalah yang sama. Dalam kesempatan itu Doktor Universitas Ummul Qura Mekkah ini menyampaikan, orang-orang seperti KH. Wahid Hasyim mantan Menteri Agama RI yang juga ayahanda KH. Abdurahhaman Wahid dan KH. Achmad Siddiq, mantan Rais Am PBNU, meski berbeda pandangan tetap saja sangat menghormati Ahmadiyah. Presiden, kata Said Aqil, sangat serius dengan soal ini. "Untuk membubarkan Ahmadiyah, SBY tidak ke situ arahnya," terangnya.
Ia juga menyampaikan gagasan tentang perlunya keterbukaan dalam pengelolaan masjid-masjid Ahmadiyah untuk mengurangi eskalasi kekerasan. Masjid Ahmadiyah juga harus terbuka untuk non-Ahmadiyah. "Seperti juga Muhammadiyah yang jumatan di Masjid NU, meski hanya ada perbedaan sedikit," contoh KH. Said Aqil.
Dalam soal kekerasan, tambah Said Aqil, PBNU juga memiliki sikap jelas. Ia lalu mencontohkan sikap PBNU terkait kasus bom yang ditujukan Ulil Abshar Abdalla, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang juga menjadi calon Ketua Umum PBNU. Tak lama setelah bom meledak, PBNU mengeluarkan sikap. Intinya, menyerukan perlawanan terhadap setiap aksi teror, termasuk himbauan agar kader NU tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan serta memperbanyak munajat dan mohon perlindungan kepada Allah SWT. PBNU juga menghimbau kepada Keluarga Besar NU beserta para kiai dan ulama NU senantiasa mendoakan keselamatan saudara Ulil Abshar-Abdalla dan kader-kader NU yang lain. KH. Said Aqil juga menambahkan, sikap yang tegas soal kekerasan juga ia sampaikan di depan tokoh-tokoh MUI.
sumber DISINI
Koreksi Aqidah KH Said Aqil Sirajd islam dan kristen
Jika kekeliruan akidah menimpa kaum awam yang tidak punya pengikut, maka bahayanya relatif kecil hanya kepada dirinya sendiri. Tapi kesesatan akidah akan menjadi musibah besar bila menimpa tokoh dan pemimpin ormas Islam yang memiliki puluhan juta pengikut.
Adalah Bambang Noorsena, pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), komunitas Kristen Ortodoks Syria (KOS) di Indonesia. Untuk sosialisasi KOS di Indonesia, Bambang Noorsena menulis buku “Menuju Dialog Teologis Kristen–Islam” yang diterbitkan oleh Penerbit Kristen Yayasan Andi Yogyakarta.
Buku setebal 172 halaman ini berisi kumpulan makalah, artikel, berbagai karya lepas, liputan, wawancara dan komentar media massa seputar Kristen Ortodoks Syria. Intinya, berusaha menjelaskan kekristenan dan keilahian (ketuhanan) Yesus versi KOS yang diyakini sebagai upaya menembus kebuntuan dialog teologis Kristen dan Islam.
Ciri khas KOS yang berbeda dengan aliran Kristen lainnya adalah identitas kearaban ala Timur Tengah. Istilah-istilah teologi banyak menggunakan bahasa Arab, bukan istilah barat ataupun Yunani. Misalnya, memakai kata “Sayyidina Isa Almasih” untuk menyebut Yesus Kristus, memakai jilbab bagi jemaat wanita ketika beribadat, dan pemakaian Bibel berbahasa Arab. “Kitab kami Injil berbahasa Arab. Karena itu kami juga bisa membaca Al-Qur’an,” jelas Bambang yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Kristen Cipta Wacana (UKCW) Malang itu pada halaman 143.
halaman asal CARI
Adalah Bambang Noorsena, pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), komunitas Kristen Ortodoks Syria (KOS) di Indonesia. Untuk sosialisasi KOS di Indonesia, Bambang Noorsena menulis buku “Menuju Dialog Teologis Kristen–Islam” yang diterbitkan oleh Penerbit Kristen Yayasan Andi Yogyakarta.
Buku setebal 172 halaman ini berisi kumpulan makalah, artikel, berbagai karya lepas, liputan, wawancara dan komentar media massa seputar Kristen Ortodoks Syria. Intinya, berusaha menjelaskan kekristenan dan keilahian (ketuhanan) Yesus versi KOS yang diyakini sebagai upaya menembus kebuntuan dialog teologis Kristen dan Islam.
Ciri khas KOS yang berbeda dengan aliran Kristen lainnya adalah identitas kearaban ala Timur Tengah. Istilah-istilah teologi banyak menggunakan bahasa Arab, bukan istilah barat ataupun Yunani. Misalnya, memakai kata “Sayyidina Isa Almasih” untuk menyebut Yesus Kristus, memakai jilbab bagi jemaat wanita ketika beribadat, dan pemakaian Bibel berbahasa Arab. “Kitab kami Injil berbahasa Arab. Karena itu kami juga bisa membaca Al-Qur’an,” jelas Bambang yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Kristen Cipta Wacana (UKCW) Malang itu pada halaman 143.
halaman asal CARI
Menjawab Syubhat KH Said Agil Siradj: Situs Porno Hanya Makruh? Oleh: Ust. Purnomo WD
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah yang menunjuki kita kepada kebenaran. Siapa yang Dia beri petunjuk maka tak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tak seorangpun yang mampu menunjukinya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Pasca kejadian bom Solo, KH Said Agil Siraj membuat satu pernyataan yang melukai hati sesama muslim dan menyenangkan hati thaghut dan kafirin. Seolah tidak tahu adanya rekayasa dari peristiwa-peristiwa yang dikategorikan sebagai aksi terorisme, dia menuduh situs-situs jihadis radikal sebagai akarnya, sehingga meminta Menkominfo agar menutup situs-situs jihadi radikal yang dianggap mengajarkan terorisme. Secara tidak langsung, Said Agil menyamakan jihad dengan aksi terorisme. Sama persis dengan Israel yang menganggap pejuang Palestina yang berjihad untuk pembebasan negeri mereka sebagai teroris. Sama juga dengan kaum kuffar Amerika yang memusuhi Islam, menganggap jihad melawan penjajahan Amerika dan sekutunya atas Irak, Afghanistan, dan negeri-negeri muslim lainnya sebagai teroris.
Namun jawaban Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring cukup membuat lego umat Islam. Karena, “Menurut saya, akar radikalisme itu bukan karena mengakses situs. Tidak ada orang menjadi teroris karena membuka situs, nggak ada, boleh dibuktikan,” kata Tifatul di Jakarta, Kamis (29/9/2011).
halaman asal DISINI
Pasca kejadian bom Solo, KH Said Agil Siraj membuat satu pernyataan yang melukai hati sesama muslim dan menyenangkan hati thaghut dan kafirin. Seolah tidak tahu adanya rekayasa dari peristiwa-peristiwa yang dikategorikan sebagai aksi terorisme, dia menuduh situs-situs jihadis radikal sebagai akarnya, sehingga meminta Menkominfo agar menutup situs-situs jihadi radikal yang dianggap mengajarkan terorisme. Secara tidak langsung, Said Agil menyamakan jihad dengan aksi terorisme. Sama persis dengan Israel yang menganggap pejuang Palestina yang berjihad untuk pembebasan negeri mereka sebagai teroris. Sama juga dengan kaum kuffar Amerika yang memusuhi Islam, menganggap jihad melawan penjajahan Amerika dan sekutunya atas Irak, Afghanistan, dan negeri-negeri muslim lainnya sebagai teroris.
Namun jawaban Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring cukup membuat lego umat Islam. Karena, “Menurut saya, akar radikalisme itu bukan karena mengakses situs. Tidak ada orang menjadi teroris karena membuka situs, nggak ada, boleh dibuktikan,” kata Tifatul di Jakarta, Kamis (29/9/2011).
halaman asal DISINI
Ngawurnya Said Agil Siradj dalam Menjelek-jelekkan Pihak yang Dia Sebut Wahabi*
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kelarga, sahabat, dan siapa saja yang komitmen dan istiqamah dengan sunnah-sunnahnya.
Istilah “Wahabi” sedang menghangat seiring dengan gerakan deradikalisasi yang membidik para aktifis dakwah dan jihad. Bahkan secara tegas, Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU telah mengaitkan antara radikalisme dengan pergerakan dakwah Wahabi. Dengan tegas ia menuduh gerakan dakwah yang merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman ulama salaf ini sebagai biang kerok dan sumber konflik di tengah-tengah masyarakat.
“Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘tawuran’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘cikal bakal’ radikalisme,” tulis KH Said Aqil Siradj pada harian Republika (3/10/2011), dengan judul, Radikalisme, Hukum, dan Dakwah.
Sebenarnya, stigma “Wahabi” merujuk pada sosok ulama abad ke-18, bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimy An-Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah (pembaharuan dan pemurnian) akidah kaum muslimin dari beragam kemusyrikan dan amaliah yang tidak diajarkan oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai yang tak pernah menyebut kiprah dakwahnya dengan penamaan dakwah Wahabi atau tak pernah mendirikan organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru muncul belakangan, itupun dengan tujuan stigmatisasi oleh mereka yang tak setuju dengan pemikiran yang diusung dalam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. (Baca: Artawijaya, Tudingan Wahabi Kontributor Teror Bom Tak Pernah Terbukti)
Di Indonesia, stigma Wahabi juga pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (PERSIS). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham Wahabi di Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut sebagai pengusung dakwah Wahabi. Baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ataupun generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak pernah ada yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai Wahabi. (Baca: Artawijaya,Tudingan Wahabi Kontributor Teror Bom Tak Pernah Terbukti)
sumber KLIK DISINI
Istilah “Wahabi” sedang menghangat seiring dengan gerakan deradikalisasi yang membidik para aktifis dakwah dan jihad. Bahkan secara tegas, Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU telah mengaitkan antara radikalisme dengan pergerakan dakwah Wahabi. Dengan tegas ia menuduh gerakan dakwah yang merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman ulama salaf ini sebagai biang kerok dan sumber konflik di tengah-tengah masyarakat.
“Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘tawuran’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘cikal bakal’ radikalisme,” tulis KH Said Aqil Siradj pada harian Republika (3/10/2011), dengan judul, Radikalisme, Hukum, dan Dakwah.
Sebenarnya, stigma “Wahabi” merujuk pada sosok ulama abad ke-18, bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimy An-Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah (pembaharuan dan pemurnian) akidah kaum muslimin dari beragam kemusyrikan dan amaliah yang tidak diajarkan oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai yang tak pernah menyebut kiprah dakwahnya dengan penamaan dakwah Wahabi atau tak pernah mendirikan organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru muncul belakangan, itupun dengan tujuan stigmatisasi oleh mereka yang tak setuju dengan pemikiran yang diusung dalam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. (Baca: Artawijaya, Tudingan Wahabi Kontributor Teror Bom Tak Pernah Terbukti)
Di Indonesia, stigma Wahabi juga pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (PERSIS). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham Wahabi di Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut sebagai pengusung dakwah Wahabi. Baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ataupun generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak pernah ada yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai Wahabi. (Baca: Artawijaya,Tudingan Wahabi Kontributor Teror Bom Tak Pernah Terbukti)
sumber KLIK DISINI
Langganan:
Postingan (Atom)